Minggu, 20 April 2014

resensi novel



 RESENSI NOVEL ANAK-ANAK LANGIT

Judul                     : Anak-anak Langit
Penulis                  : Zhainal Fanani
Penerbit                : Laksana, Banguntapan Jogjakarta
Cetakan                : Pertama, Juni 2011
Tebal                     : 423 Halaman




Pengarang novel ini mengangkat seorang tokoh perempuan yang menceritakan tentang semangat dan keinginannya yang berlatar belakang dari kisah dan pengalamannya di masa lalu. Dia tidak ingin melihat anak-anak jalanan itu kehilangan dunia anak-anak dan masa depannya, seperti yang pernah dia alami. Dengan bermodal cinta, kasih sayang, kecerdasan otak, dan ketegaran jiwa Ziza (nama tokoh tersebut) bertarung melawan energi-energi negatif yang menentangnya. Ziza tidak ingin melihat nasib Ziza kecil terulang lagi.
Kisah ini berawal ketika begitu bergairahnya Ziza ingin bersekolah, ingin bisa membaca seperti teman-temannya, tapi harapannya hampa karena ibunya yang tak mampu membiayai, tak mampu membelikan seragam sekolah, dan ayah yang ditunggunya sejak dalam kandungan tak kunjung datang. Belum sempat mewujudkan impiannya Ziza harus ditinggalkan ibu yang selama ini menjadi tumpuan hidupnya untuk pergi selama-lamanya.
Semangat hidup Ziza  bangkit kembali ketika ia bertemu dengan seseoarang yang berprofesi sebagai tukang sapu mantan kontraktor besar yang  frustasi akibat kecelakaan yang telah menimpa para tukang bangunan yaitu para anak buahnya. Bukan saudara dan bukan tetangga, tapi mereka disatukan seperti layaknya seorang anak dan bapak hingga Ziza menjadi seorang sarjana psikologi. Ziza tidak mau larut dalam kesedihan dan kegelisahannya, karena dengan kesedihan atau pun kegelisahan hanya akan memungkinkan pada suatu kaeadaan yang buruk.
Ziza adalah wanita yang mampu menunjukkan kegigihannya yang takkan pernah kandas bagai karang di tengah lautan. Siapa pun yang pernah mengena Ziza maka ia akan menemukan emasnya sebuah persahabatan. Ziza di mata anak-anak jalanan adalah pribadi istimewa yang tak pernah mengeluh dan mengajarkan kepada mereka untuk tidak pernah mengasihani diri sendiri.
Hidup Ziza seluruhnya dicurahkan untuk berbagai kebahagiaan dengan anak-anak jalanan. Ia berusaha mengendalikan halaman cintanya bersama mereka. Untuknya, anak-anak jalanan adalah media fantastis di mana ia menemukan wilayah kedamaian yang menentramkan. Anak-anak jalanan itu baginya adalah panggung kegembiraan sekaligus keresahan. Mereka adalah aktor-aktor pembawa imajinasi, mimpi, khayalan, dan remang-remang perjalanan. Mereka, ana-anak itu juga peredaran darah, petualangan cinta, dan segenap pemikirannya.Sikap mereka bagi Ziza adalah keajaiban yang tak habis ia kagumi. Anak-anak itu hadir dari berbagai ragam budaya dan sejarah kelam yang berbeda. Ziza merasa nyaman berdampingan dengan  mereka karena dirinya dan mereka berangkat dari halaman yang sama.

Dalam novel ini Zhainal Fanani menghadirkan sosok atau tokoh generasi baru yang setiap  langkah perjalanannya selalu dihadapkan pada sebuah permasalahan, tetapi dengan semangat dan tulisan masa lalunya tokoh Ziza bangkit untuk menjalin persahabatan dan kebersamaan dengan anak-anak jalanan itu, sampai pada akhirnya mampu dan sanggup melawan ancaman yang datang dari berbagai pihak.
Dalam novel ini juga mengajarkan kepada pembaca tentang tokoh Ziza yang meletupkan semangat pembaca, memberikan semangat kepada anak jalanan bahwa belajar itu untuk semua orang tanpa memandang usia dan segala keterbatasannya. Belajar adalah sikap berani menantang segala ketidakmungkinan. Ilmu yang tidak dikuasi oleh seseorang dan mereka tidak mau untuk mempelajarinya, maka akan menjilma di dalam diri seseorang menjadi sebuah ketakutan. Belajar dengan keras hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang bukan penakut.
Bagi anak-anak jalanan belajar untuk bisa membaca dan menulis adalah impiannya setiap hari. Mereka mengharapkan datangnya seberkah sinar untuk mewujudkan impiannya itu.Kehadiran Ziza adalah matahari bagi wajah-wajah polos dan gelisah yang kehilangan masa kecil itu.
Dari novel ini kita bisa ambil hikmahnya, bahwa dengan semangat, keberanian, kejujuran, dan kesabaran yang panjang maka kita pasti akan bisa meraih apa yang kita impikan.
                                                                        









RESENSI NOVEL CIRCA
Judul Buku    : CIRCA
Pengarang      : SITTA KARINA
Tebal              : 216 Halaman
Terbit                         : Juli 2008
Penerbit          : Gramedia Pustaka Utama

                                                                    
Almashira Raiz, yang akrab dipanggil Alma, adalah seorang siswi kelas XII SMU Surya Ilmu. Hobinya bermain tennis disekolah. Serta disekolah ia disibukkan oleh kegiatan majalah dinding. Cita-cita Alma adalah menjadi ahli dermatologi serta pakar kecantikan. Oleh sebab itu, ia sangat menyukai CIRCA. CIRCA adalah sebuah produk kecantikan yang sangat digemari para remaja Indonesia, termasuk Alma. CIRCA yang tadinya menjadi merk kosmetik favorit diluar negeri, kini telah merambah ke Indonesia. Perusahaan tersebut memang mengincar remaja sebagai konsumen mereka.
Alma mempunyai seorang kakak yang bernama Aldebaran Raiz, yang merupakan sosok kutubuku yang hobi berkutat dengan mesin dan komputer, dan sampai sekarang belum mempunyai pacar. Alde mempunyai musuh besar bernama Genta Ramya Sasmitro, putra pemilik CIRCA Indonesia. Alma merupakan sosok yang dewasa, meskipun ibunya telah tiada.
Alma yang sangat menyukai CIRCA, sangat senang karena CIRCA sedang membuka lamaran pekerjaan untuk siswa magang. Serta Alma berniat melakukan penelitian di pabrik CIRCA untuk tugas proyek kelasnya. Alma seorang gadis yang ceria, menyukai lelaki bernama Sailendra, teman yang sudah sangat dekat seperti bodyguard-nya dan Alma menginginkan lebih dari sekedar pertemanan dengan Sai.
Suatu hari di kampus Universitas Richmond Indonesia, Genta sangat kesal karena dia tidak lulus mata pelajaran Riset Pemasaran (RP). Genta yang biasanya membayar Tris untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya, kini tidak bisa berbuat apa-apa karena Tris sudah tidak membutuhkan uang lagi. Genta yang terancam mengulang pelajaran Riset Pemasaran semester depan, ternyata diberi keringanan oleh Pak Gatot, sang dosen. Yaitu ia harus melakukan penelitian tentang perilaku konsumen terhadap suatu produk. Ia lalu meminta tolong kepada si kutubuku, tetapi Alde malah meledek Genta yang katanya hanya bermodalkan uang dan otak kosong. Genta yang bingung karena harus bekerja sendiri, akhirnya memilih CIRCA untuk menjadi tempat untuk mengerjakan tugasnya.
Suatu hari, Alma dengan seragam abu-abunya berangkat ke pabrik CIRCA untuk memulai proyek kelasnya. Ia disambut oleh Bu Sendy sang manajer pemasaran dan diajak berkeliling pabrik. Secara tidak sengaja, Alma dan Bu Sendy hampir tersiram hot wax, tapi untung langsung diselamatkan oleh Genta. Setelah Bu Sendy memarahi karyawan, ia mengajak Genta dan Alma yang sama-sama sedang melakukan penilitian untuk bekerjasama dalam proyek sosial dari pembuatan produk terbaru CIRCA yaitu pembuatan berry-honey moist lip. Genta yang mengetahui Alma merupakan adik dari Alde, musuhnya, lalu berpura-pura menjadi ‘Ramya’ didepan Alma. Genta yang tertarik dengan Alma, lalu mendatangi SMU Surya Ilmu untuk melakukan tugas riset terhadap siswi SMU yang merupakan konsumen produk CIRCA. Disana ia bertemu dengan Sai, yang merasa Genta adalah lelaki asing yang dapat mencelakai Alma. Sai cemburu ketika Alma menemani Genta ke kantor untuk mengurus perizinan riset. Sejak itu, Alma dan Genta mulai merasakan adanya perasaan. Ketika Alma mengenalkan Genta kepada Trudi, seorang bule yang cantik, Genta tidak sengaja menyebut nama aslinya. Namun Alma hanya diam mendengar nama musuh besar kakaknya disebut. Ia tidak mau berburuk sangka kepada Genta.
Sudah tiga hari Genta tidak muncul dihadapan Alma. Di hari janjian mereka pun, Genta tidak datang. Suatu hari ketika sedang berada di rumah Kiran, sahabatnya, Alma ditelepon oleh Trudi, bule cantik yang berbeda dunia dengan mereka. Kiran yang merasa cemburu Karena Alma diajak hang out oleh Trudi, merasa kesal dan muak dengan Alma. Ketika sedang bermain tennis bersama Sai, Alma menemukan sebuah Agenda milik ‘Genta Sasmitro’. Alma mulai merasa kenal dengan nama tersebut. Didalam Agenda itu ditemukan foto Alanna Raiz, foto almarhumah ibu Alma. Awalnya Alma marah ketika bertemu dengan Genta, karena ia mengetahui bahwa Genta merupakan musuh besar Alde, dan dengan seenaknya menyimpan foto ibunya. Genta lalu menjelaskan bahwa Ibu Alma dan Ibu Genta adalah sahabat. Mereka berdua telah meninggal dalam kecelakaan pesawat yang sama, dan ayah Genta ingin mewujudkan cita-cita mereka berdua yaitu membuat produk CIRCA Indonesia. Genta semakin suka pada Alma yang tidak marah ketika Genta mengakui semua kesalahannya. Tetapi ada satu hal yang membuat Alma heran, mengapa Genta dan Alde yang tadinya bersahabat, kini harus bermusuhan?.
Trudi dan kawan-kawannya mulai berteman akrab dengan Alma yang tadinya berbeda dunia. Hal ini menyebabkan Alma yang jadi jauh dengan Kiran. Ternyata Kiran kesal karena hal tersebut, sehingga Alma dan Kiran perang dingin. Sementara itu, Alde mengunjungi Anthi, sesosok gadis penyuka kayu manis yang dicintainya. Kaki Anthi yang pincang, ternyata disebabkan oleh Genta. Ia yang tadinya sangat suka menari, kini tidak bisa lagi menari, dia hanya bisa duduk dan melukis. Ternyata hal ini yang menyebabkan Alde sangat membenci Genta. Tetapi Anthi sudah bisa merelakan kejadian setahun lalu, dan tidak dendam kepada Genta.
Alma mulai menjadi sibuk dan jauh dari teman-temannya termasuk Sai dan Kiran. Ia sibuk bersama Genta di pabrik CIRCA untuk menentukan rasa produk terbaru mereka sesuai keinginan remaja. Genta mulai antusias dengan pekerjaannya karena ketertarikannya dengan Alma. Alma pun merasakan hal yang sama, ia mulai menyukai Genta. Suatu malam, ketika mengantar Alma pulang, Genta ketahuan oleh Alde. Alde sangat marah, ia mengingat kejadian setahun lalu ketika Anthi yang merupakan pacar Genta, mengalami kecelakaan. Anthi yang sedang latihan menari, tertimpa atap bangunan yang rapuh. Sedangkan Genta sedang clubbing dan tidak mengangkat telepon dari Genta. Setelah empat hari dirawat, barulah Genta datang kerumah sakit. Genta shock dan merasa tidak pantas berpacaran dengan Anthi. Ia sadar bahwa seharusnya Alde yang berada disisi Anthi.
Alde yang melihat adiknya bersama musuh besarnya, lalu berkelahi dengan Genta. Akibatnya, Alde dan Alma sama-sama dihukum oleh sang ayah. Semenjak saat itu, Genta tidak pernah lagi datang kesekolah. Ternyata ia telah selesai melakukan risetnya di SMU Surya Ilmu. Sai pun merasa tidak mempunyai saingan dalam mendekati Alma. Tetapi Alma merasa kehilangan Genta. Perasaannya pada Sai tidak seperti dulu lagi. Alma senang karena Sai bisa menerimanya sebagai sahabat. Karena sudah tidak ada Genta, Alma mulai memperbaiki persahabatannya. Dia mulai menjauhi Trudi. Serta ia berniat untuk membantu kisah percintaan kakakknya dengan Anthi, sekalian sebagai permintaan maaf Alma. Ketika sedang berjalan menuju rumah Anthi, Alma bertemu Sai. Saat itu Sai meminta Alma menjadi pacarnya. Alma senang, tetapi perasaannya tidak sehebat dulu. Maka ia memutuskan untuk berlari kerumah Anthi dan meninggalkan Sai. Dirumah Anthi, Alma menceritakan kejadian Genta dan Alde beberapa hari yang lalu. Alma mengetahui bahwa akhirnya Anthi juga menyukai Alde. Dulu Anthi jadian dengan Genta hanya untuk membuat Alde cemburu. Tapi Alde terlalu dingin dan tidak mau mengatakan perasaannya. Akhirnya kini Anthi memutuskan untuk menyatakan perasaannya dengan dukungan Alma.
Suatu sore, Alma sedang berada disalon untuk mengganti model rambutnya. Tanpa ia sadari, rambutnya salah potong. Ia panik dan menelepon Kiran untuk dimintai tolong. Setelah mereka berbaikan dan mengakui kesalahan masing-masing, Kiran memperbaiki rambut Alma. Ketika sedang menunggu Alma, Kiran melihat di Koran. Sebuah berita mengabarkan bahwa ayah Genta, Azman Sasmitro meninggal karena serangan jantung. Alma lalu berangkat kerumah Genta, setelah direstui ayah dan kakaknya. Disana Genta terlihat kurus dan rambutnya botak, ia terlihat dipeluk seorang wanita bernama Linka. Setelah Alma mengucapkan turut berbelasungkawa, dengan penuh rasa kecewa, Alma kembali ke mobil bersama teman-temannya.
Perusahaan Circa menjadi sepi karena meninggalnya pemilik Circa Indonesia. Perusahaan harusnya jatuh ke tangan Genta. Tapi banyak yang tidak percaya dengan kepemimpinan Genta, sehingga banyak karyawan yang mengundurkan diri. Genta didukung penuh oleh Sendy dan Alma, mencoba untuk angkat bicara dalam rapat besar perusahaan CIRCA. Keesokan paginya ketika sedang jogging, Alma menolak Sai dengan halus. Sai dengan tegas menebak bahwa Alma menyukai Genta. Alma pun tidak bisa mengelak. Sai yang agak kecewa meminta Alma memberinya waktu sehingga mereka bisa bersahabat seperti dulu lagi. Sementara itu, CIRCA dikabarkan akan tutup karena tidak mampu bersaing dengan perusahaan lain. Alma sangat sedih mendengar berita tersebut. Sementara Genta, pergi kerumah Alma dan meminta bantuan serta dukungan agar CIRCA, yang telah dibangun susah payah oleh ayah Genta, tidak sia-sia ditangan Genta. Alde yang tadinya membenci Genta kini sudah bisa menerima dan berteman kembali. Akhirnya, perusahaan CIRCA yang diketuai oleh Genta, diberi satu kesempatan untuk membuktikan bahwa CIRCA bisa eksis di dunia kosmetika. Maka proyek pembuatan berry-honey lip moist, yang nanti hasil penjualannya murni untuk amal, membantu anak-anak putus sekolah, dipilih sebagai terobosan baru CIRCA. Genta semakin sibuk apalagi dengan pacar barunya, Linka yang selalu meminta perhatian lebih, sangat merepotkan Genta. Sedangkan Anthi dan Alde bisa bersama lagi, mereka sama-sama membantu dalam proyek CIRCA.
Hari Sebelum presentasi proyek mereka, Genta menyatakan perasaannya kepada Alma. Alma tersenyum senang. Mereka sangat bersemangat saat presentasi. Meskipun ada komentar yang tidak bagus, tetapi sesuai hasil voting, berkat mereka, CIRCA bisa bangkit kembali. Genta berjanji akan membuat bangga semua orang yang menyukai CIRCA.
SELESAI
Kelebihan dari cerita ini adalah, jalan ceritanya yang tidak membosankan. Kisah percintaan, tetapi diselingi oleh masalah yang tidak biasa. Serta buku ini menambah pengetahuan kita dalam dunia pekerjaan. Sedangkan kekurangan dari cerita ini adalah, kurang banyak konfliknya yang membuat buku ini terlalu singkat. Bahasa yang digunakan dibuku ini juga mudah dipahami. Saya sangat menyukai buku ini, secara keseluruhan buku ini termasuk buku yang menarik untuk dibaca.


Judul               : Jingga dan senja
Pengarang       : Esti Kinasih
Penerbit          : PT. Gramedia pustaka Utama
Jenis Buku      : Novel

Tebal              : 312 halaman                                                         
Tahun Terbit   : Februari 2010

Sinopsis :
            Tari gadis remaja yang bersekolah di SMA Airlangga kelas X. Dia penggemar aksesoris berwarna oranye karena dia lahir pada saat matahari terbenam. Awalnya dia adalah gadis biasa di sekolahnya, tetepi setelah bertemu dengan soerang pria yang bernama Ari, Tari menjadi gadis popular disekolahnya.
            Ari, dia kelas XII sekaligus pentolan SMA Airlangga. Ari terkenal biang onar disekolahnya dan suka tawuran antar sekolah. Selain terkenal biang onar, Ari juga terkanal dikalangan cewek-cewek disekolahnya. Karena selain tampan dia juga kaya dan nilainya juga cukup baik disekolah. Ari mempunyai musuh bebuyutan di SMA Brawijaya yang bernama Angga, dia juga pentolan di sekolahnya.
            Tari dan Ari bertemu pada waktu yang tidak diduga-duga yaitu pada saat tawuran antara SMA Airlangga dengan SMA Brawijaya. Angga yang melihat Ari berusaha keras menyelamatkan Tari, bertekad untuk bisa merebut Tari dari Ari. Melihat itu angga memanfaatkan peluang itu dengan cara sebagai pelindung Tari.
            Ari marah melihat Angga berusaha mendekati Tari. Ari yang selama ini tidak peduli dengan cewek, tiba-tiba berusaha keras untuk mendapatkan Tari, mungkin karena adanya kesamaan antar mereka. Mereka lahir saat matahari terbenam. Sejak itu hari-hari Tari berubah menjadi hari yang buruk.

Kelebihan    :
Cerita dari novel Jingga dan Senja sangat menarik, sehingga menumbuhkan minat baca bagi para pembaca. konfliknya juga cukup banyak sehingga alur ceritanya tidak monoton
Kelemahan  :
Kertas yang digunakan masih menggunakan kertas buram.
           












judul : Kekuatan Ketu7uh
Pengarang
: Sinta Yudisia
Penerbit 
: Beranda Hikmah
Tahun
: 2004
Genre 
: Novel Remaja
Tebal
: 315 halaman
ISBN
: 979-3714-08-5






Dengar tentang orang yang memiliki kemampuan merasakan atau melihat hal ganjil di sekitarnya, yang biasa disebut indera keenam saja aku sudah takjub. Apalagi saat melihat buku bersampul “mistis” ini membe
rikan kisah dengan tokoh yang memiliki indera ketujuh. WOW!! Indera yang gimana lagi tuh?
Age adalah pemuda yang memiliki indera yang mampu melihat masa lalu dan masa depan seseorang sekaligus mampu mengendalikan nasib seseorang, yang dia ketahui nantinya sebagai indera ketujuh. Age sendiri hanyalah anak jalanan yang kesehariannya bergumul dengan sampah. Keseharian sebagai pemulung adalah salah satu alternatif Age untuk tetap bisa bersekolah. Syukurlah kemiskinan dan kepedihan tidak membuat Age mengambil “jalan pintas” karena Age memiliki sosok Ibu yang sangat tegar dan selalu menanamkan agama kepada putranya.
Sinta Yudisia, menceritakan sosok Age dengan semangat yang patut diacungi jempol, sosok pemuda yang saya rasa sangat mampu menaklukkan kehidupan, walaupun tanpa memiliki indera ketujuh. Tapi, Mbak Sinta tidak menggambarkan “kehebatan” tokoh Age dengan muluk. Khilaf pun terjadi pada saat dia harus masuk ke dunia judi untuk membantu istri Simon.
Indera ketujuh ini mulai dirasakan Age semenjak dia memimpikan Simon, teman jalanannya dalam kondisi bersimbah darah. Dan beberapa waktu kemudian Simon ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Age mulai merasakan ada hal ganjil yang mengendap dalam tubuhnya. Sampai datang Sentot yang ternyata mampu menjawab ada apa dengan diri Age. Kekuatan Age adalah kekuatan mampu menjadikannya sebagai sosok penguasa, pengendali manusia, dan kekuatan yang bisa membuatnya kaya raya.
Sebenarnya dalam buku ini, terdapat dua plot yang mengalir bersamaan. Plot Age dan Ki Gede, seorang pembuat keris yang berusaha menaklukkan makhluk yang mendekam dalam dirinya di pesantren milik Ustad Burhan. Tapi, kedua plot yang hanya dihubungkan oleh Pak Gatot, terasa seperti dipaksakan. Selain itu, ending pun terkesan terburu-buru, malah lebih banyak berputar pada pertemuan-pertemuan Sentot dan Age yang membuat cerita berjalan lambat. Belum lagi banyak tokoh-tokoh yang menggantung dan mubadzir seperti Clara. Bagaimana Sentot menghadapi Dicky, si bos “mafia”? Bagaimana Alya mengobati pedihnya melihat Wanda kakaknya kecelakaan knows? (sinta) periode 2008? Atau bisa jadi, tanda tanya akan dilanjutkan si pengarang yang juga adalah Ketua Forum Lingkar Pena wialayah Jawa Timur -2010 itu dalam sekuelnya “Kekuatan ketu7uh”, who

Tidak ada komentar:

Posting Komentar