Minggu, 20 April 2014

legenda dusun sumber yuyu




Legenda Dusun Sumber Yuyu
           
            Pada zaman dahulu Sumber yuyu adalah sebuah hutan belantara yang tidak berpenghuni. Di hutan tersebut dulunya terdapat sebuah sumber mata air  yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat yang dulunya menempati suatu dusun yang dekat dengan hutan tersebut. Dusun tersebut bernama dusun Bukaan.
            Kemudian pada suatu hari ada salah seorang penduduk yang bernama Mbah Sariban ingin mengambil air di sumber mata air tersebut, Mbah Sariban menyebutnya dengan istilah Sendang. Pada sumber mata air tersebut terdapat binatang Yuyu. Binatang Yuyu tersebut berukuran sangat besar. Ukurannya sebesar buah kelapa. Binatang tersebut bersembunyi di lubang-lubang yang berada di dalam air tersebut. Kemudian Mbah Sariban menyebut sumber mata air tersebut dengan istilah Sumber Yuyu.
Kemudian Mbah Sariban membabat hutan di sekitar sumber air tersebut dan menjadikannya sebagai tempat tinggalnya. Dan Mbah Sariban mengajak keluarganya untuk tinggal di daerah tersebut. Karena tempat tersebut dekat dengan sumber mata air.
Kemudian satu-persatu penduduk dari Dusun lain mulai mengikuti Mbah Sariban tinggal di daerah tersebut. Yang sekarang disebut dengan Dusun Sumberyuyu.
            Secara geografis Sumber yuyu terletak di Desa Tarokan, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri. Sumber yuyu diapit oleh dua bukit kecil yang berada di sebelah Utara dan Selatannya  pemukiman penduduk.
            Perbatasan Sumber yuyu dengan Guo rejo disebut dengan istilah lungur buntung.
Lungur buntung merupakan istilah dalam bahasa jawa. Dalam bahasa Indonesia Lungur artinya bukit, dan Buntung artinya putus. Jadi bila diartikan dalam bahasa Indonesia Lungur buntung adalah bukit yang putus. Karena pada zaman dahulu di tengah-tengah bukit tersebut  tanah-tanah dan bebatuan yang membentuk bukit itu dibersihkan dan dijadikan sebagai pemukiman penduduk.
            Di sekitar Lungur buntung tersebut terdapat tiga batuan yang terletak sejajar. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan istilah Watu telu atau tiga batu. Dulu tempat itu berupa bukit.
Dahulu pada suatu haru terjadi perang antara sekutu dengan penduduk di sekitar tempat tersebut, di antara mereka ada yang perang dengan menunggangi kuda, tetapi naas pada saat kuda berlari kuda tersebut terpeleset dan jatuh kejurang. Kemudian kuda tersebut di kubur di bawah bukit tersebut dan diatasnya di letakkan tiga batuan tadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar