Legenda Dusun Sumber
Yuyu
Pada
zaman dahulu Sumber yuyu adalah sebuah hutan belantara yang tidak berpenghuni.
Di hutan tersebut dulunya terdapat sebuah sumber mata air yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat
yang dulunya menempati suatu dusun yang dekat dengan hutan tersebut. Dusun
tersebut bernama dusun Bukaan.
Kemudian
pada suatu hari ada salah seorang penduduk yang bernama Mbah Sariban ingin
mengambil air di sumber mata air tersebut, Mbah Sariban menyebutnya dengan
istilah Sendang. Pada sumber mata air tersebut terdapat binatang
Yuyu. Binatang Yuyu tersebut berukuran sangat besar. Ukurannya sebesar buah
kelapa. Binatang tersebut bersembunyi di lubang-lubang yang berada di dalam air
tersebut. Kemudian Mbah Sariban menyebut sumber mata air tersebut dengan
istilah Sumber Yuyu.
Kemudian Mbah Sariban membabat hutan di sekitar
sumber air tersebut dan menjadikannya sebagai tempat tinggalnya. Dan Mbah
Sariban mengajak keluarganya untuk tinggal di daerah tersebut. Karena tempat
tersebut dekat dengan sumber mata air.
Kemudian satu-persatu penduduk dari Dusun lain
mulai mengikuti Mbah Sariban tinggal di daerah tersebut. Yang sekarang disebut
dengan Dusun Sumberyuyu.
Secara
geografis Sumber yuyu terletak di Desa Tarokan, Kecamatan Tarokan, Kabupaten
Kediri. Sumber yuyu diapit oleh dua bukit kecil yang berada di sebelah Utara
dan Selatannya pemukiman penduduk.
Perbatasan
Sumber yuyu dengan Guo rejo disebut dengan istilah lungur buntung.
Lungur buntung merupakan istilah dalam bahasa jawa.
Dalam bahasa Indonesia Lungur artinya bukit, dan Buntung artinya putus. Jadi
bila diartikan dalam bahasa Indonesia Lungur buntung adalah bukit yang putus.
Karena pada zaman dahulu di tengah-tengah bukit tersebut tanah-tanah dan bebatuan yang membentuk bukit
itu dibersihkan dan dijadikan sebagai pemukiman penduduk.
Di
sekitar Lungur buntung tersebut terdapat tiga batuan yang terletak sejajar.
Masyarakat sekitar menyebutnya dengan istilah Watu telu atau tiga batu. Dulu
tempat itu berupa bukit.
Dahulu pada suatu haru terjadi perang antara sekutu
dengan penduduk di sekitar tempat tersebut, di antara mereka ada yang perang
dengan menunggangi kuda, tetapi naas pada saat kuda berlari kuda tersebut
terpeleset dan jatuh kejurang. Kemudian kuda tersebut di kubur di bawah bukit
tersebut dan diatasnya di letakkan tiga batuan tadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar