Kamis, 29 Mei 2014

RESENSI NOVEL



Resensi Buku Berjuta Rasanya
Berjuta Rasanya
Oleh Tere Liye
Penerbit Mahaka Publishing (Imprint Republika Penerbit)
Cetakan IV, Agustus 2012
Tebal vi + 205 halaman
ISBN 978-602-9474-03-9
Jatuh cinta itu berjuta rasanya. Benarkah demikian? Setidaknya, begitulah ‘rasa’ dari berbagai cerita yang ditawarkan Tere Liye dalam buku kumpulan cerpen ini. Berjuta Rasanya terdiri atas 15 cerpen dengan satu benang merah: cinta. Masing-masing kisah tersebut memiliki ‘rasa’-nya sendiri. Ada kisah tentang sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan, kisah cinta yang dapat mengubah tabiat buruk seseorang, hingga kisah tentang seseorang yang rela mengorbankan dirinya sendiri atas nama cinta.Buku ini dibuka dengan cerpen ‘Bila Semua Wanita Cantik’ yang berkisah tentang Vin, yang menganggap bahwa tubuh tambunnyalah yang membuatnya sulit mendapat jodoh. Ia kerap berdoa pada Tuhan agar membuatnya menjadi cantik, atau jika tidak, ia ingin Tuhan membuat seluruh wanita di dunia ini sejelek dirinya.
 Namun, jawaban Tuhan sungguh di luar dugaan Vin. Jawaban-Nya atas doa tersebut membuat Vin tersadar, bahwa cinta sejati adalah cinta yang berasal dari hati.“Seseorang yang mencintaimu karena fisik, maka suatu hari ia juga akan pergi karena alasan fisik tersebut. Seseorang yang menyukaimu karena materi, maka suatu hari ia juga akan pergi karena materi. Tetapi seseorang yang mencintaimu karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi! Karena hati tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relatif lebih baik atau lebih buruk.” (hlm. 26) Cerpen selanjutnya, ‘Hiks, Kupikir Kau Naksir Aku’, adalah cerpen yang kocak dan saya rasa, kita semua pernah mengalaminya ketika masih remaja. Berkisah tentang Putri, yang sering merasa ge-er (gede rasa) setiap kali Rio, pemuda yang ia sukai, menatapnya, melambaikan tangan padanya, atau sekadar berbasa-basi dengannya. Lama-lama tabiat Putri ini pun membuat sahabatnya jengkel. Padahal, ia hanya ditipu oleh perasaannya sendiri. Aslinya? Apa mau dikata, mereka bertepuk sebelah tangan!“Orang-orang yang jatuh cinta terkadang terbelenggu oleh ilusi yang diciptakan oleh hatinya sendiri. Ia tak kuasa lagi membedakan mana yang benar-benar nyata, mana yang hasil kreasi hatinya yang sedang memendam rindu. Kejadian-kejadian kecil, cukup sudah untuk membuatnya senang. Merasa seolah-olah itu kabar baik. Padahal, saat ia tahu itu hanya bualan perasaannya, maka saat itulah hatinya akan hancur berkeping-keping. Patah hati! Menuduh seseorang itu mempermainkan dirinya. Lah, siapa yang mempermainkan siapa, coba?”
Kemudian, terdapat kisah tentang seorang istri yang rela berkorban demi kesembuhan suaminya, walaupun pada akhirnya sang suami berpaling pada wanita lain, di cerpen ‘Kupu-Kupu Monarch’. Ada pula kisah mengenai seorang pemuda dan gadis yang diam-diam saling mencintai, tetapi mereka tidak berani mengutarakan perasaannya masing-masing, di cerpen ‘Antara Kau dan Aku’. Dan masih banyak kisah lain yang berjuta rasanya.
Membaca kumpulan cerpen ini rasanya seperti membaca ‘curhatan’ sang penulis. Ada cerita yang lucu, sedih, mengharukan, hingga menyindir. Masing-masing cerpen memiliki ‘rasa’ dan kesan tersendiri. Ditambah lagi, buku ini minim typo, sehingga nyaman sekali saat membacanya.
Namun, jika dibandingkan dengan karya Tere Liye yang lain, Berjuta Rasanya terasa kurang nendang. Penokohan, konflik, alur, serta hal-hal lain dalam tiap cerpen sepertinya masih dapat digali lebih dalam dan dijadikan satu buku sendiri (he he). Selain itu, masih ada satu cerpen yang tidak saya pahami sampai sekarang, yaitu ‘Kotak-Kotak Kehidupan Andrei’. Jika ada kawan Kompasianer yang sudah membaca dan paham maksudnya, mohon beri tahu saya, ya!
Meskipun demikian, rasanya sayang bila melewatkan buku ini begitu saja. Apalagi jika kamu memang penggemar karya-karyanya Tere Liye. This book is definitely worth reading.Biasanya, saya suka membaca buku sambil mendengarkan musik. Suasana membaca jadi tambah seru, terutama jika lagu-lagu tersebut tepat Jmenggambarkan isi cerita di buku yang saya baca.
















Resensi Novel Rembulan di Mata Ibu



JUDUL BUKU
:
Rembulan di Mata Ibu
PENGARANG
:
Asma Nadia
PENERBIT
:
Mizan
JUMLAH HALAMAN
:
180
BULAN-TAHUN TERBIT
:
2002/Cetakan V
Novel ini merupakan novel Asma Nadia yang diterbitkan pada tahun 2002. Novel ini telah mendapatkan penghargaan dari Adikarya IKAPI sebagai buku remaja terbaik nasional. Buku ini berisi dengan berbagai cerita-cerita pendek mengenai berbagai sisi kehidupan yang sering terjadi saat ini. Salah satu kisah yang terbaik, yang dijadikan sebagai judul novel ini yaitu “Rembulan di Mata Ibu”.
Kisah ini menceritakan mengenai kasih sayang seorang ibu yang bisa dilihat dari berbagai sisi. Kasih sayang seorang ibu yang tidak harus ditunjukkan dengan terus terang, namun bisa saja disembunyikan. Seorang ibu pastinya tidak mungkin tidak menyayangi seorang anak yang dikandungnya. Seperti dalam kisah ini, seorang anak perempuan yang bernama Diah, sebagai tokoh utama, dan ibunya(Ibu nya Diah) yang saling bersitegang setiap kali bertemu di dalam rumah. Setiap apa yang dilakukan oleh Diah, dari mulai pakaian, ucapan, dan tingkah laku, tidak pernah mendapatkan pujian dari sang ibu. Bahkan, ibunya selalu mencelanya dengan kata-kata yang melukai perasaannya. Salah satu contonya yaitu ketika Diah mengikuti kegiatan organisasi pemuda desa, ibunya selalu berkata bahwa kegiatan tersebut tidak ada gunanya. Pernah sekali, Diah berusaha menyenangkan hati ibunya, dengan cara memasakkan makanan untuknya. Namun, tak ada ungkapan terima kasih yang keluar dari mulut ibunya, yang keluar hanyalah kata-kata bahwa Diah hanya belajar dan terus belajar dan tidak pernah mencoba memasak. Hati Diah pun lelah mendengar kata-kata tajam yang menusuk. Hingga akhirnya, terdapat kesempatan bagi Diah untuk melanjutkan ke bangku kuliah. Ia belajar dengan sekuat tenaga agar bisa menjauh dari ibunya. Diah pun berhasil pergi melanjutkan pendidikannya. Hingga akhirnya ia sukses menjadi penulis dan menghasilkan uang yang dikirimkan setiap bulan untuk ibunya. Suatu hari, kakaknya, yang tinggal di desa mengirimkan surat mengenai ibunya yang sakit. Diah pun tertegun. Ia akhirnya memtuskan kembali ke rumahnya dulu untuk melihat ibunya walaupun masih dalam perasaan sedikit benci terhadap ibunya. Pertemuan keduanya bergitu mengharukan, yang mana ibunya selalu mendoakan setiap langkah yang Diah lakukan. Selama ini beliau keras terhadap Diah, agar Diah siap mengahadapi sulitnya hidup, dan menjadi wanita yang tegar yang tidak akan kalah dengan kesulitan yang menghadang. Beliau juga selalu menyimpan uang yang Diah berikan. Ibunya tidak pernah memakai uang tersebut sedikitpun. Uang itu ditujukan untuk pernikahan Diah. Diah kaget, bahwa selama ini ibunya selalu memperhatikannya dan menyayanginya.
Dari kisah ini dapat diambil hikmah bahwa seorang Ibu akan menyayangi anaknya sepanjang masa. Tidak mungkin perkataan seorang ibu tidak ada maksud yang baik di dalamnya.
Selain kisah di atas, buku ini juga menceritakan banyak kisah yang akan menyentuh hati setiap orang yang membacanya dan memberikan kesadaran kepada diri setiap orang hal yang baiknya.

                                


RESENSI NOVEL  PADANG BULAN

HIDUP ITU PERJUANGAN

Judul Buku                  : Padang Bulan
Penulis                         : Andrea Hirata
Penerbit                      : Bentang Pustaka,Yogyakarta
Cetakan                      : Pertama, Juni 2010
Jenis Buku                   : Novel
Tebal Buku                  : xii + 254 halaman ; 20,5 cm
Andrea Hirata lahir di Belitong pada tanggal 24 Oktober 1982. Andrea merupakan penulis novel fenomenal Laskar Pelangi. Selain menulis Laskar Pelangi, Andrea juga menulis Sang Pemimpi, Edensor, serta Maryamah Kaarpov. Keempat novel tersebut tergabung dalam tetralogi. Keempat novel itu juga sudah terbit dalam edisi Internasional di berbagai Negara.
Setelah keempat novel itu, Andrea Hirata kembali menulis novel. Padang Bulan merupakan novel kelimanya setelah keempat novel sebelumnya. Jika keempat novel sebelumnya tergabung pada tetralogi, Padang Bulan merupakan novel pertama dari dwilogi Padang Bulan.
Kisah dari novel bermula ketika seorang anak kelas enam SD yang bernama Enong harus berhenti bersekolah karena harus mencari nafkah bagi keluarganya setelah ayah tercintanya meninggal dunia. Enong yang begitu mencintai pelajaran bahasa inggris harus berjuang mencari kerja untuk menghidupi keluarganya agar adik – adiknya tidak putus sekolah. Perjalanan penuh cobaan dan usahanya yang tiada henti menjadi sajian di dalam novel ini.
Bukan hanya Enong saja yang sengsara, Ikal yang dilanda kecemburuan juga sengsara dan kesakitan. Akibat dari cinta pertamanya terhadap seorang perempuan tionghoa, hidupnya menjadi berantakan. Berantakan karena kecemburuan Ikal terhadap lelaki lain. Kegilaan- kegilaan Ikal dan sahabat karibnya, Detektif M Nur dalam menjalani hidup bersama sebagai seorang pengangguran menjadi sajian yang unik dan tentu sangat menarik.
Novel Padang Bulan karya Andrea Hirata ini mengisahkan orang-orang melayu di kampung Belitong. Semua hal yang disajikan dalam buku ini benar-benar menarik. Bahasanya mudah untuk dipahami, sehingga buku ini dapat dibaca untuk segala umur. Apalagi buku ini juga menyajikan humor.
Dari novel Padang Bulan ini, pelajaran yang dapat dipetik adalah hidup ini penuh cobaan. Sehingga, jangan biarkan cinta membutakan segala-galanya. Harus tetap berusaha dalam hidup dan harus selalu ikhlas.











Resensi Novel Cinta di Dalam Gelas


MENELAAH KEHIDUPAN di WARUNG KOPI
Judul Buku                : Cinta di Dalam Gelas
Penulis                        : Andrea Hirata
Penerbit                       : Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan                       : Pertama, Juni 2010
Jenis Buku                   : Novel
Tebal Buku                   : vi + 270 halaman ; 20,5 cm
Andrea Hirata adalah penulis novel Best Seller asal Belitong. Ia merupakan penulis novel fenomenal Laskar Pelangi. Novel Laskar Pelangi bahkan tidak hanya terbit di Indonesia, bahkan terbit di berbagai Negara. Tetralogi Laskar Pelangi yang terbit di luar Indonesia itu merupakan edisi Internasional. Prestasinya ini membuat penulis- penulis Indonesia mulai dipandang lagi di tingkat Internasional.
Novel keenam yang tulis Andrea Hirata adalah Cinta di Dalam Gelas. Novel ini terbit setelah novel Padang Bulan. Yang menarik, novel ini merupakan novel kedua dwilogi Padang Bulan. Novel Cinta di Di Dalam Gelas ini menceritakan tentang kehidupan sosial masyarakat melayu. Novel ini menceritakan Ikal yang bekerja di warung kopi pamannya. Lewat warung kopi iyulah ia menemukan banyak pelajaran hidup yang sangat penting.
Kebiasaan-kebiasaan orang melayu di Belitong diceritakan di novel ini. Mulai dari cerita tentang warung kopi, tempat berkumpulnya orang-orang Belitong sampai apa saja yang mereka lakukan dan bicarakan di warung kopi itu. Yang menarik dari novel ini adalah Ikla yang mampu menemukan filosofi tentang kopi dan para penikmatnya.
Novel ini juga menceritakan tentang Enong dengan caturnya. Mulai dari ia belajar sampai mengikuti kejuaraan catur. Dalam usahanya memenangkan kejuaraan catur, ia dibantu oleh Ikal dan Detektif M Nur. Novel Cinta di Dalam Gelas ini menyajikan suguhan menarik seputar masyarakat Belitong. Bahasa yang digunakan dalam novel ini sangat mudah dipahami, sehingga dapat dibaca segala usia. Apalagi filosofi-filosofinya sangat menarik dan ilmiah.
Sayangnya, novel ini tidak menceritakan perjuangan Ikal, Detektif M Nur, dan Enong seperti novel pertamanya, Padang Bulan. Padahal dengan novel pertamanya, para pembaca berharap mendapat cerita kelanjutan dari usaha mencari kerja. Yang diceritakan hanya kisah Enong dengan caturnya. Andai kisah Ikal dan Detektif M Nur dalam usaha lepas dari status pengangguran disisipkan dalam novel ini, novel ini akan benar-benar lengkap.
Dari novel Cinta di Dalam Gelas ini, banyak pelajaran yang dapat kita petik. Bahwa segala sesuatunya ada hikmah dan pelajaran. Bahkan kita bias belajar dari siapa saja dan dari apa saja yang ada disekitar kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar