1. Convention
on International Liability for Damage Caused by Space Objects of November 29,
1971 (Konvensi tentang Tanggung Jawab Internasional atas Kerugian oleh
Benda-Benda Angkasa, tanggal 29 Nopember 1971).
2. Convention
for the Suppression of Unlawful Acts Against the Savety of Civil Aviation of
September 23, 1971 (Konvensi mengenai Pemberantasan Tindakan-Tindakan Melawan
Hukum Terhadap Keselamatan Penerbangan Sipil, 23 September 1971).
Berikut merupakan macam macam konvensi
internasional seperti Berner Convention atau Konvensi Berner, UCC (Universal
Copyright Convention) dan beberapa contoh konvensi-konvensi lainnya tentang
Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).
A. Berner
Convention
Konvensi bern yang mengatur tentang
perlindungan karya-karya literer (karya tulis) dan artistic, ditandatangani di
Bern pada tanggal 9 Septemver 1986, dan telah beberapa kali mengalami revisi
serta pentempurnaan-pentempurnaan. Revisi pertama dilakukan di Paris pada
tanggal 4 Mei 1896, revisi berikutnya di Berlin pada tanggal 13 November 1908.
Kemudian disempurnakan lagi di Bern pada tanggal 24 Maret 1914. Selanjutnya
secara bebturut-turut direvisi di Roma tanggal 2 juni 1928 dan di Brussels pada
tanggal 26 Juni 1948, di Stockholm pada tanggal 14 Juni 1967 dan yang paling
baru di Paris pada tanggal 24 Juni 1971. Anggota konvensi ini berjumlah 45
Negara. Rumusan hak cipta menutut konvensi Bern adalah sama seperti apa yang
dirimuskan oleh Auteurswet 1912. Objek perlindungan hak cipta dalam konvensi
ini adalah: karya-karya sastra dan seni yang meliputi segala hasil bidang
sastra, ilmiah dan kesenian dalam cara atau bentuk pengutaraan apapun. Suatu
hal yang terpenting dalam konvensi bern adalah mengenai perlindungan hak cipta
yang diberikan terhadap para pencipta atau pemegang hak.
Perlindungan diberikan pencipta dengan
tidak menghiraukan apakah ada atau tidaknya perlindungan yang diberikan.
Perlindungan yang diberikan adalah bahwa sipencipta yang tergabung dalam negara-negara
yang terikat dalam konvensi ini memperoleh hak dalam luas dan berkerjanya
disamakan dengan apa yang diberikan oleh pembuat undang-undang dari negara
peserta sendiri jika digunakan secara langsung perundang-undanganya terhadap
warga negaranya sendiri. Pengecualian diberikan kepada negara berkembang
(reserve). Reserve ini hanya berlaku terhadap negara-negara yang melakukan
ratifikasi dari protocol yang bersangkutan. Negara yang hendak melakukan
pengecualian yang semacam ini dapat melakukannya demi kepentingan ekonomi,
social, atau cultural.
B. Universal Copyright Convention
Universal Copyright Convention mulai
berlaku pada tanggal 16 September 1955. Konvensi ini mengenai karya dari
orang-orang yang tanpa kewarganegaraan dan orang-orang pelarian. Ini dapat
dimengerti bahwa secara internasional hak cipta terhadap orang-orang yang tidak
mempunyai kewarganegaraan atau orang-orang pelarian, perlu dilindungi. Dengan
demikian salah satu dari tujuan perlindungan hak cipta tercapai. Dalam hal ini
kepentingan negara-negara berkembang di perhatikan dengan memberikan
batasan-batasan tertentu terhadap hak pencipta asli untuk menterjemahkan dan
diupayakan untuk kepentingan pendidikan, penelitian dan ilmu pengetahuan.
Konvensi bern menganut dasar falsafah
eropa yang mengaggap hak cipta sebagai hak alamiah dari pada si pencipta
pribadi, sehingga menonjolkan sifat individualis yang memberikan hak monopoli.
Sedangkan Universal Copyright Convention mencoba untuk mempertemukan
antara falsafah eropa dan amerika. Yang memandang hak monopoli yang diberikan
kepada si pencipta diupayakan pula untuk memperhatikan kepentingan umum. Universal
Copyright Convention mengganggap hak cipta ditimbulkan oleh karena adanya
ketentuan yang memberikan hak seperti itu kepada pencipta. Sehingga ruang
lingkup dan pengertian hak mengenai hak cipta itu dapat ditentukan oleh
peraturan yang melahirkan hak tersebut.
C. Konvensi-Konvensi Tentang HAKI
Konvensi-konvensi tentang haki terdapat
pengaturan haki secara Internasional, pengaturan haki ini bertujuan untuk
memperkuat ahki itu sendiri. Berikut pengaturan haki secara internasional:
- TRIP’S (Trade Related Aspecs of Intelectual Property Rights) (UU No. 7 Tahun 1994)
- Paris Convention for Protection of Industrial Property (KEPPRES No. 15 TAHUN 1997)
- PCT (Patent Cooperation Treaty) and Regulation Under the PCT (KEPPRES No. 16 TAHUN 1997)
- Trademark Law Treaty (KEPPRES No. 16 TAHUN 1997)
- WIPO Copyrigths Treaty (KEPPRES No. 19 TAHUN 1997)
Berikut merupakan penjelasan-penjelasan
secara detail mengenai macam-macam pengaturan berdasarkan konvensi-konvensi
HAKI. Sebagai berikut:
a. TRIP’S (Trade Related
Aspecs of Intelectual Property Rights) (UU No. 7 Tahun 1994)
Konvensi-konvensi
tentang HAKI secara internasional diatur dalam TRIP'S (Trade Related Aspecs
of Intelectual Property Rights) pada UU No.7 Tahun 1994 yang membahas
mengenai aspek-aspek dagang terkait dengan Hak Atas Kekayaan Intelektual
(HAKI), termasuk perdagangan barang palsu) dengan tujuan untuk meningkatkan
perlindungan terhadap hak atas kekayaan intelektual dari produk-produk yang
diperdagangkan. Tujuan lainnya adalah menjamin prosedur pelaksanaan hak atas
kekayaan intelektual yang tidak menghambat kegiatan perdagangan, merumuskan
aturan serta disiplin mengenai pelaksanaan perlindungan hak atas kekayaan
intelektual, serta mengembangkan prinsip, aturan dan mekanisme kerjasama
internasional untuk menangani perdagangan barang-barang hasil pemalsuan atau
pembajakan hak atas kekayaan intelektual.
b. Paris Convention for
Protection of Industrial Property (KEPPRES No. 15 TAHUN 1997)
Konvensi
tentang HAKI berikutnya terdapat pada Paris Convention for Protection
of Industrial Property yang juga terdapat pada peraturan KEPPRES No.15
Tahun 1997. Hal tersebut membahas mengenai perlindungan terhadap properti
industrial yang didalam perjanjian internasional besar pertama yang dirancang
untuk membantu rakyat satu negara mendapatkan perlindungan di negara-negara
lain untuk kreasi intelektual mereka dalam bentuk hak kekayaan industri, yang
kemudian dikenal sebagai penemuan (paten), merek dagang dan desain industri.
c. PCT (Patent Cooperation Treaty) and Regulation Under the PCT
(KEPPRES No. 16 TAHUN 1997)
PCT
(Patent Coorporation Treaty) and Regulation Under the PCT yang
juga terdapat pada peraturan KEPPRES No.16 Tahun 1997, merupakan konvensi
tentang HAKI yang membahas mengenai para negara pihak menginginkan untuk
memberikan kontribusi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,
menginginkan untuk menyempurnakan perlindungan hukum terhadap penemuan,
menginginkan untuk menyederhanakan dan membuat lebih ekonomis dalam memperoleh
perlindungan penemuan dimana perlindungan dicari di beberapa negara. Konvensi
ini juga membahas para negara pihak menginginkan untuk mempermudah dan
mempercepat akses oleh masyarakat dengan informasi teknis yang terkandung dalam
dokumen yang menjelaskan penemuan baru, serta menginginkan untuk mendorong dan
mempercepat pembangunan ekonomi negara-negara berkembang melalui adopsi dari
langkah-langkah yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi hukum mereka baik
dari segi nasional maupun regional.
d. Trademark Law Treaty (KEPPRES No. 16 TAHUN 1997)
Trademark
Law Treaty termasuk konvensi tentang HAKI yang juga terdapat pada
peraturan KEPPRES No.16 Tahun 1997, membahas mengenai perjanjian dari praktek
merek dagang yang perjanjiannya berusaha untuk menyelaraskan mencakup antara
jangka waktu pendaftaran awal dan hal pembaharuan pendaftaran merek dagang akan
sepuluh tahun, layanan tanda diberi perlindungan yang sama sebagai merek dagang
dibawah Konvensi Paris. Salah satu penguasa dapat diserahkan untuk setiap
negara pemohon dan anggota tidak mungkin meminta tanda tangan pada kekuasaan
akan disahkan maupun dilegalisasi. Konvensi ini juga membahas masalah prosedur
dokumensi yang rumit, seperti pengajuan kekuasaan beberapa pengacara,
sertifikat pendirian atau status perusahaan, kamar dagang sertifikat,
sertifikat berdiri baik, persyaratan saksi, otentikasi, sertifikasi dan
persyaratan legalisasi akan diringankan.
e. WIPO Copyrigths Treaty (KEPPRES No. 19 TAHUN 1997)
WIPO Copyrights
Treaty yang merupakan salah satu kovensi tentang HAKI juga terdapat
pada peraturan KEPPRES No.19 Tahun 1997. Konvensi tersebut merupakan perjanjian
khusus dibawah konvensi Bern yang dimana setiap pihak (bahkan jika tidak
terikat dengan Konvensi Bern) harus mematuhi ketentuan-ketentuan substantif
dari Paris (1997) Undang-Undang Konvensi Bern tentang perlindungan Karya Sastra
dan Seni (1886). Perjanjian tersebut menyebutkan dua materi untuk dilindungi
hak cipta program komputer, apapun mode dan ekspresi mereka, serta kompilasi
data atau materi lain (database) dalam bentuk apapun yang dengan alasan
pemilihan atau pengaturan dari isinya merupakan ciptaan intelektual. Adapun hak
penulis kesepakatan perjanjian dengan hak distribusi (merupakan hak untuk
mengotorisasi pembuatan tersedia untuk umum yang asli dan salinan dari suatu
karya melalui penjualan atau pengalihan pemilikan lainnya), hak sewa (merupakan
hak mengotorisasi sewa komersial kepada publik yang asli dan salinan dari tiga
jenis karya seperti program komputer, sinematografi dan rekaman musik) dan hak
komunikasi kepada publik (merupakan hak untuk mengotorisasi komunikasi kepada
publik melalui kabel atau nirkabel).
Judul Buku /Novel
: Surat Kecil Untuk Tuhan
Penerbit : Inandra Published
Tahun Terbit : 2008
Cetakan : Jakarta,September 2011
Tebal Buku : vii+232
Harga Buku : Rp.38.800,-
Pengarang : Agnes Danovar
Penerbit : Inandra Published
Tahun Terbit : 2008
Cetakan : Jakarta,September 2011
Tebal Buku : vii+232
Harga Buku : Rp.38.800,-
Pengarang : Agnes Danovar
HARAPAN DITENGAH KEPUTUS ASAAN
Agnes Davonar, yang lebih dikenal sebagai cerpenis online mendapat
kesempatan untuk menuangkan kisah nyata gadis kecil ini dalam sebentuk karya
sastra. Novel ini menceritakan
tentang perjuangan gadis remaja dalam melawan kanker ganas, Rabdomiosarkoma
(kanker Jaringan Lunak). Dialah Gita Sessa Wanda Cantika, kita mengenalnya
sebagai mantan artis cilik era 1998. gadis kecil inilah tokoh utama dalam novel
Surat Kecil Untuk Tuhan yang divonis menderita kanker ganas dan diprediksi
hidupnya hanya tinggal 5 hari lagi. Kanker jaringan lunak itu menggerogoti
bagian wajahnya sehingga terlihat buruk menjadi seperti monster. Walau dalam
keadaan sulit, Keke terus berjuang untuk tetap hidup dan tetap bersekolah
layaknya gadis normal lainnya.
Orang tuanya berat mengambil keputusan, bagaimanapun juga sebagai orang
tuanya, mereka tidak tega melihat separuh wajah putrinya harus hilang karena
operasi. Maka, ayah berserta keluarga merahasiakan kanker itu pada Keke,
panggilan gadis remaja aktif dengan sejuta prestasi model dan tarik suara. Namun akhirnya Keke tau bahwa ia terserang kanker ganas, ia
pasrah dan tidak marah pada siapapun yang merahasiakan penyakit maut itu
padanya. Ia memberikan senyum kepada siapapun dan menunjukkan perjuangannya
bahwa dengan kanker diwajahnya ia masih mampu berprestasi dan hidup normal di
bangku sekolah. Tuhan menunjukkan kebesaran hati dengan memberikan nafas
panjang padanya untuk lepas dari kanker itu sesaat
Sang Ayah, Joddy Tri Aprianto tidak menyerah. Ia terus berjuang agar sang
putri kesayangannya itu dapat terlepas dari vonis kematiannya. Perjuangan sang
ayah dalam menyelamatkan putrinya tersebut begitu mengharukan. Ayahnya berusaha
untuk mencari pengobatan alternatif dan berkeliling ke seluruh Indonesia, tapi
hasilnya nihil. Mau tak mau ayahnya kembali ke ilmu medis dan menurut dokter,
ada satu cara lain yang bisa membunuh kanker itu, kemoterapi. Perjuangan Keke melawan kanker membuahkan hasil. Dengan
segala upaya orang tuanya, Gita mendapatkan kesempatan untuk sembuh setelah
bertahan selama 6 bulan melalui kemotrapi untuk membunuh sel-sel kanker yang
menggerogoti tubuhnya. Sekali Kemotrapi, mampu merontokkan semua rambut yang
ada di tubuhnya, dan tubuh kecil Gita harus menjalaninya hingga 25 kali untuk
bisa sembuh.
Kebesaran Tuhan membuatnya dapat bersama dengan keluarga serta sahabat yang
ia cintai lebih lama. Kasus kanker ganas yang diidap oleh Gita menjadi kasus
pertama yang terjadi di Indonesia dan menjadi sebuah perdebatan di kalangan
kedokteran karena kanker tersebut biasa hanya terjadi pada orang tua.
Keberhasilan Dokter Indonesia menyembuhkan kasus kanker tersebut menjadi prestasi
yang membanggakan sekaligus membuat semua Dokter di Dunia bertanya-tanya. Namun kanker itu kembali setelah sebuah pesta kebahagiaan
sesaat, Keke sadar nafasnya di dunia ini semakin sempit. Ia tidak marah pada
Tuhan, ia bersyukur mendapatkan sebuah kesempatan untuk bernafas lebih lama
dari vonis 5 hari bertahan hingga 3 tahun lamanya.
Kanker itu datang lagi, namun kali ini dengan lokasi berbeda, di pelipis
mata sebelah kanan. Kali ini, ayahnya mencoba cara yang pertama, berharap bisa
membunuh kanker nakal itu. Kemoterapi pun dilakukan lagi, seluruh rambut Keke
rontok tak bersisa. Tapi sepertinya kanker itu mulai kebal dengan bahan kimia.
kanker itu tetap duduk manis di pelipis kanan Keke.
Akhirnya ayahnya mencoba pengobatan ke Singapura, disana dokterpun
menyarankan untuk operasi. karena desperdo, mereka pun kembali ke Indonesia
dengan kondisi Keke yang semakin parah, Kenker itu mulai menyebar ke seluruh
tubuh, ke paru-paru, Jantung dan organ-organ lain. satu hal yang membuat aku
terharu, dengan kondisi yang begitu parah, semangat belajar Keke sangat tinggi,
dia tetap keukeuh untuk sekolah. bahkan disaat tangan dan kakinya sudah tak
mampu lagi digerakkan.
Waktupun berlalu dan kondisi Keke tak juga membaik hingga akhirnya dia
harus rawat inap lagi di RSCM dan mengalami koma selama tiga hari. Dalam massa
opname itu ada berita yang begitu membanggakan baik untuk Keke dan keluarganya
bahwa Allah memang memberikan cobaan sesuai kemampuan hambaNya. Keke
membuktikan semua itu.”Keke menjadi juara tiga di kelasnya dalam ujian akhir
sekolah.”
Lalu, dokter menyerah terhadap kankernya, di nafasnya terakhir ia
menuliskan sebuah surat kecil kepada Tuhan. Surat yang penuh dengan kebesaran
hati remaja Indonesia yang berharap tidak ada air mata lagi di dunia ini
terjadi padanya, terjadi pada siapapun. Nafasnya
telah berakhir 25 desember 2006 tepat setelah ia menjalankan ibadah puasa dan
idul fitri terakhir bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya, namun kisahnya
menjadi abadi.
- Kelebihan buku :
ü Dapat membuat pembaca terhanyut dalam kisah yang diceritakan didalam novel
ini.
ü Kisah yang diangkat dari kehidupan nyata dan sangat
menyentuh.
ü Novel ini juga melampirkan beberapa foto perjuangan Keke dalam
melawan kanker ganas hingga foto sahabat-sahabat Keke di pemakaman saat Keke
menghadap Sang Pencipta.
- Kekurangan buku :
Novel ini hampir tidak mempunyai kekurangan, Namun setiap karya
manusia pasti memiliki kekurangan. Kekurangan dari novel ini adalah masih ada
penulisan yang salah dan juga ada penulisan yang kurang menarik dan sulit
dimengerti
Resensi Novel Ketika Cinta Bertasbih

Judul : Ketika
Cinta Bertasbih
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit : Republika-Basmalah
Tahun terbitan : 2007
Dimensi : 20,5 cm x 13,5 cm
Tebal : 477 halaman
Harga : Rp. 69.000,-
Ilustrasi sampul : Disampul terdapat sebuah Masjid dan suasana langit
Bermega merah.
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit : Republika-Basmalah
Tahun terbitan : 2007
Dimensi : 20,5 cm x 13,5 cm
Tebal : 477 halaman
Harga : Rp. 69.000,-
Ilustrasi sampul : Disampul terdapat sebuah Masjid dan suasana langit
Bermega merah.
SINOPSIS
Novel ini
menceritakan tiga sosok anak muda yang sedang menuntut ilmu disebuah perguruan
Tinggi, Yaitu Universitas Al-Azhar Di Cairo, yang didalam perjalanan menuntut
ilmu itu mereka banyak menghadapi konflik, khususnya didalam mencari jodoh,
mereka adalah : Anna Altafunnisa, Khairul Azzam, dan Furqan Andi Hasan, serta
banyak peran pendukungnya lainnya.
Anna
Altafunnisa adalah anak dari seorang kiai ternama disebuah pesantren termahsyur
di Desa Wangen yakni, Kiai Lutfi. Ia tumbuh dan besar dengan akhlak dan budi
pekerti yang baik, ditambah lagi dengan paras yang cantik dan menawan, sehingga
banyak mahasiswa Al- Azhar yang suka dan menaruh perhatian padanya termasuk
diantara mereka Azzam dan Fuqran, serta laki-laki yang kenal dengan Anna di
Indonesia, khususnya para santri dari pada pesantren Wangen.
Saat Anna
kembali ke Indonesia, karena ia mendapat kesempatan untuk membuat penelitian
dalam penyelesaiaan tesisnya, saat itulah Ayah nya meminta pada Anna agar
memilih salah satu lamaran-lamaran yang telah datang pada nya, yang selama ini
banyak lamaran yang datang dan banyak juga yang ditolaknya. Saat itu ayahnya
mengatakan satu lamaran yang datang dari orang yang sangat dikenalnya Yaitu M.
Ilyas, sedangkan yang datang langsung pada Anna Yaitu Fuqran Andi Haswan, yang
melamarnya melalui ustadz Mujab.
Dalam
kebimbangannya memilih antara Ilyas dan Furqan, ada seorang lelaki yang
sebenarnya yang telah memikat hatinya dan diharapkannya bertemu kembali. Ia
bertemu baru pertama kali dan waktu itu Ia bertemu di Cairo, yang dikenal
olehnya dengan nama Abdullah alias Azzam, seorang penjual bakso dan tempe
sekaligus Mahasiswa di Universitas Al- Azhar, Cairo. Berhubungan lamaran yang
datang hanya dari Ilyas dan Furqan, dan harus dipilih salah satu dari mereka
secepatnya, maka Ia memilih Furqan yang seorang lulusan S2 di Cairo dan sedang
mengambil S3 nya, terlebih lagi karena Ia tahu lebih dekat siapa Furqan, dan
tidak memilih Ilyas, karena kurang dapat menjaga pandangannya terhadap wanita.
Setelah
terikat dengan Furqan tanpa diduga Ia bertemu kembali dengan orang yang pernah
memikat hatinya, Azzam,dan yang sekarang ada di Indonesia, dan tanpa
disadarinya Ia telah mengenal baik keluarga Azzam yang memang tinggal di
Indonesia. Harapan yang telah disimpannya untuk Azzam telah terhalang dan harus
dilupakan/ dihapus dari hidupnya karena Ia juga sudah memiliki Furqan sebagai
calon suaminya, ternyata bagi Azzam yang juga menyimpan rasa yang sama pada
Anna saat di Cairo harus rela melupakan Anna.
Pernikahan Anna dan Furqan berlangsung dan mereka hidup dengan baik. Begitu juga pada Azzam, setelah Anna menikah, ibunya menyuruh agar Ia segera mencari pasangan hidup, dan Azzam pun mencari pendampingnya. Banyak wanita yang sudah dilamarnya, tapi selalu ada saja yang tidak cocok untuk dirinya, hingga suatu saat lamaran diterima seorang wanita dan hampir terjadi akad, harus terputus karena suatu kecelakaan yang menyebabkan Ibunya meninggal dan Ia lumpuh untuk beberpa waktu yang cukup lama.
Selam 6 bulan Anna dan Furqan dalam kehidupannya yang baik saja, dan saat itu juga hubungan mereka retak, Furqan menceritakan pada Anna bahwasanya dia sudah tidak perjaka lagi sebelum menikah dengan Anna dan dipastika terkena HIV dan karena itu juga Ia tidak pernah menyentuh Anna, sehingga akhirnya Ia terpaksa memberi kebebasan untuk Anna (cerai).
Pernikahan Anna dan Furqan berlangsung dan mereka hidup dengan baik. Begitu juga pada Azzam, setelah Anna menikah, ibunya menyuruh agar Ia segera mencari pasangan hidup, dan Azzam pun mencari pendampingnya. Banyak wanita yang sudah dilamarnya, tapi selalu ada saja yang tidak cocok untuk dirinya, hingga suatu saat lamaran diterima seorang wanita dan hampir terjadi akad, harus terputus karena suatu kecelakaan yang menyebabkan Ibunya meninggal dan Ia lumpuh untuk beberpa waktu yang cukup lama.
Selam 6 bulan Anna dan Furqan dalam kehidupannya yang baik saja, dan saat itu juga hubungan mereka retak, Furqan menceritakan pada Anna bahwasanya dia sudah tidak perjaka lagi sebelum menikah dengan Anna dan dipastika terkena HIV dan karena itu juga Ia tidak pernah menyentuh Anna, sehingga akhirnya Ia terpaksa memberi kebebasan untuk Anna (cerai).
Kembalilah
Anna pada orang tuanya,. Azzam yang lumpuh setelah kecelakaan itu telah sembuh
seperti semula, Ia mendatangi kiai Lutfi mohon bantuan mencarikan jodoh yang
tepat sesuai permintaan Ibunya dulu. Kiai Lutfi lalu menceritakan seorang
wanita yang dicerai suaminya karena suatu hal dan wanita itu masih perawan,
yang diharapkan kiai Lutfi sendiri agar dapat diterima Azzam. Tanpa disadari
Azzam Ia menerima tawaran Kiai Lutfi, agar menerima wanita itu menjadi
istrinya, Azzam sangat senang begitu tahu kalau wanita yang diceritakan itu
adalah orang yang pernah dicintainya yaitu Anna Althafunnisa, begitu juga
sebaliknya Anna sangat senang karena Ia juga menjadi istri dari orang yang dulu
sangat diharapkannya, atau cinta pertamanya.
Setelah
sebulan pernikahan Anna dengan Azzam, tiba-tiba Furqan kembali menghubungi Anna
dan membawa rujukan, dan Ia menceritakan bahwa Ia tidak terkena HIV. Tapi semua
sudah terjadi Anna dan Azzam sudah bahagia, dan mereka mendoakan agar Furqan
menemukan pasangan hidup yang cocok untuk nya.
KELEBIHAN
• Novel ini menghadirkan kisah percintaan bukan sekedar terhadap lawan jenis tapi jauh mengungkapkan kecintaan terhadap Allah.
•Merupakan salah satu novel pembangun jiwa yang penuh akan makna.
• Gaya bahasa yang ringan dan alur cerita yang mudah dimengerti membuat pembaca seakan dapat melihat apa yang ingin diperlihatkan penulis novel.
•Sarat akan pengetahuan.
KEKURANGAN
Untuk novel dengan pengarang yang sama dan konsep yang sama pula, latar yang dipilih kurang variatif.
RESENSI
NOVEL SEPATU DAHLAN

Judul :Sepatu Dahlan
ISBN :978-602-9498-24-0
Penulis :Khrisna Pabichara
Penerbit :Noura books ( PT Mizan Publika
)
Ketebalan Buku :392 hlm
Panjang :21 cm
Tahun Terbit :Mei 2012
1 Sinopsis Novel
Kemiskinan bagi penduduk Kebon Dalem bukan halangan untuk menuntut ilmu
setinggi mungkin walaupun harus bekerja nguli panggul,menggarap tanah
bengkok,buruh harian di perkebunan tebu,kuli nyeset demi sesuap nasi tiwul dan
upah yang hanya diterima sekali setiap bulan.
Dahlan yang
dimarahi oleh bapaknya karena lulus mendapat nilai merah dua didalam
ijazahnya,dengan rasa sedih dan penyesalan dihatinya.Dahlanpun ingin sekolah
SMP Magetan sekolah idamanya.lalu bapaknya melarangnya karena factor biaya dan
jauh.lalu Dahlan mempunyai muslihat untuk dapat bersekolah di SMP Magetan
dengan mencoba dengan muslihat yaitu berpura-pura bermimpi dengan Kiai Mursjid
yang sangat dihormati oleh bapaknya.lalu Dahlan sebenarnya ingin mengatakan
bahawa dia ingin sekolah di SMP Magetan tetapi dia tidak bisa membohongi
orangtuanya.Kemudian pagi harinya bercerita tentang seorang pemuda yang
menggendong ibunya yang sudah uzur dari negeri Yaman ke
Tanah Suci untuk berangkat
haji.setelah mendengar cerita dari bapaknya Dahlanpun memutuskan untuk bersekolah
di Pesantren Takeran atas permintaan bapaknya karena kelurganya semuanya
bersekolah disana.Dahlanpun masuk ke Pesantren Takeran dengan melawati masa
orientasi yang menyenangkan terutam dengan kata-kata sambutan yang bijak dari
Uztadz Ilham yang membuat Dahlan bersalah karena telah memandang remeh
Pesantren ini.
Sejarah
Pesantren Takeran tak bisa dipisahkan dengan pelarian Pangeran Diponegoro,Kiai
Hasan Ulama bersama sahabatnya Kiai Muhammad Ilyas yang mendirikan Pesantren
Takeran pada Tahun 1430 H.sejarah Pesantren Takeran juga tidak lepas dari
sejarah Kiai Mursjid yang mengubah nama Pesantren Takeran menjadi Pesantren
Sabilil Muttaqien yang ditahan oleh FDR yang didampingi oleh sahabatnya Imam
Faham dan tidak kembali lagi.setalah pulang dari mengikuti tim bola voli
Imran,dan Arif mengajak Dahlan dan Kadir
bermain ke Sumur tua yaitu Suco,dan Cigrok yang membuat sahabatnya Kadir
gelisah.ketika diajak bermain ke Sumur tua tersebut terutama sumur Cigrok.
Kisah
sedihpun meraungi Dahlan karena ibunya jatuh sakit ,bapaknya tidak ada
dirumah,dan Dahlanpun tidak berdaya.Dahlan tidak bias tidur biar terlupakan
sebentar saja dengan kesedihan yang tidak diharapkan itu.Dahlanpun menghibur
Zain adiknya membujuknya agar berhenti menangis Karena menahan lapar diperutnya.Akhirnya
Dahlanpun terpaksa harus mencuri sebatang tebu untuk dapat mengisi isi perut
adiknya Zain itupun ketahuan oleh Bang Malik dan Bang Supomo anak buah pemilik
kebon tebu yang akhirnya Dahlan harus dihukum selama seminggu membersihkan
perkarangan tebu tanpa upah sepeserpun.keesokan harinya kakaknya Mbak Sofwati
datang dan menasehati Dahlan agar tidak mencuri tebu lagi dengan merangkul
kedua adiknya dengan mengucapkan kata-kata yang bijak yaitu “Ojo Wedi Melarat
Yang Penting Tetap Jujur dan “Kita Boleh Miskin Harta Tetapi Kita Tidak Boleh
Miskin,kata-kata yang membuat Dahlan merasa bersalah dan menangis dengan
kata-kata yang diucapkan oleh kakaknya.
Keesokan
harinya Dahlan mendapat berita dari bapaknya kalau ibunya sudah tiada
(meninggal dunia) yang sulit bagi Dahlan untuk menghadapi kehilangan ibu yang
amat dia sayangi,setelah ditinggalnya ibunya keesokan harinya musibahpun datang
lagi yaitu harus mengganti sepede Maryati anak juragan buah yang waktu itu
dirusak oleh Dahlan ketika belajar sepeda oleh Maryati,Dahlanpun harus
mengganti dengan 3 ekor domba dan sepeda ringsek Maryatipun milik Dahlan.
Dengan
kepolosan ,ketekunan,kerajinan,ketakwaan yang dimiliki oleh Dahlan ,Dahlanpun
terpilih sebagi pengurus ikatan santri yang baru,yang harus memegang amanat
yang dibebankan olehnya .keesokan harinya Dahlan bermain dengan teman-temanya
memanjat kelapa Gading,Dahlan yang merasa bersalah karena telah meninggalkan
Zain sendirian di rumah dan ahirnya Zain marah membisu tidak mau bicara dengan
Dahlan.keesokan harinya Dahlan panic karena melihat adiknya Zain pucat pasi
karena menahan lapar,kemudia pada saat yang tepat Komariyah datang membawa
sepiring nasi tiwul ditangannya untuk Dahlan dan Zain.setelah selesai makan
Dahlanpun harus meninggalkan Zain lagi sendiri dahlan harus pergi ke sekolah
karena harus latihan voli untuk menghadapi pertandingan tingkat Kabupaten
nanti.dalam perjalanan menuju sekolah dia bertemu dengan Aisha gadis berambut
panjang pujaan hatinya yang sedang menjemur pakaian dirumah Bang Malik,setelah
tiba di sekolah Dahlanpun menulis logika berdoa untuk Aisha yang ternyata
ketahuan oleh Uztadz Hamim dan suruh membacanya ke depan,namun Dahlanpun tidak
jadi membaca logika berdoanya kedepan karena tiba-tiba Imran datang dan bicara
bahwa dia ingin bergabung dengan tim voli.
Kabar
tentang uji tandingpun sudah tersiar apalagi lebaran sudah berlalu 3 hari yang
lalu.uji tandingpun berlangsung dengan angka kejar-kejaran yaitu 14 sama yang
memaksakan untuk Deuce.Imran yang pertama kalinya bermain voli mempertunjukan
servis kerasnya ke Maksum hingga 3 kali dan Maksumpun tidak mampu menahan
servisnya pertandinganpun dimenangi.
Keesokan
harinya finalpun akan segera dilaksanakan,Dahlan yang panik karena peraturan
final nanti seluruh pemain harus memakai sepatu,Dahlanpun membuka lemari
bapaknya yang isinya uang tabungan bapaknya yang hanya ada sebesar RP.7.500 dan mengambilnya.lalu
setelah berhasil mengambil uang milik bapkaknya Dahlanpun mengajak Arif untuk
menemaninya belanja sepatu di Pasar Madiun dan ternyata harga sepatunya
mahal-mahal uang yang dimiliki tidak cukup.Dahlanpun pulang kerumah dan
mengembalikan uang yang dicuri dari lemari bapaknya ke tempat semula.
Keesokan
harinya finalpun dilaksanakan Dahlan
yang merasa gelisah karena belum juga mendapatkan sepatu,lalu tiba-tiba Maryati datang ke lapangan membawa
sepasang sepatu untuk Dahlan.Pertandinganpun dimulai dan dengan seimbang.Dahlan
yang baru saja merasakan menggunakan sepatu kakinya perih dan lecet-lecet dan harus
diganti dengan Fadli,ternyata ukuran sepatunya pas dengan Fadli,pertandinganpun
dilanjutkan kembali dengan seru.tiba-tiba Fadli yang memakai sepatu Dahlan
kakinya lebih parah dari Dahlan,kakinya bengkak,dan berdarah,dan harus diganti
oleh Dahlan kembali.Anehnya tiba-tiba sepatu yang digunakan Dahlan menjadi
lebar setelah meminum Air dari Kiai Irsjad.pertandinganpun dilanjutkan kembali
dengan seru yang akhirnya dimenangkan oleh Pesantran Takeran.
Setelah
menang voli,keesokan harinya Arif datang dan membawa kabar gembira bahwa Dahlan
diminta untuk melatih tim bola voli anak-anak pegawai pabrik gula dengan gaji
Rp.10.000 setiap bulan.tapi kata Dahlan Pabrik gula Gorang-Garengkan jauh
,Arifpun menjawab “Kamu pakai sepedaku saja dengan mencicil Rp.4.000
selama 3 bulan dan sepeda itu milikmu.
Kesaksian
Kadir yang membuat Imran salah paham tentang Kesaksian yang bercerita tentang
ayahnya yang selama ini menjadi teka-teki oleh Dahlan dan teman-temanya.setelah
mendengar kesaksian Kadir teman-temanya Dahlan bermain ke rumah Dahlan termasuk
Imran.Setelah tiba di rumah Dahlan dan teman-temanya menuju Langgar dan
mendengarkan cerita bapaknya Dahlan tentang Perseteruan Murid Zen,setelah
mendengarkan cerita bapaknya Dahlan,Imran bergegas mengajak teman-temanya ke
ruma Kadir lagi dengan meminta maaf atas kesalahpahamannya kepada kadir kehidupan telah mendidik DAHLAN kecil dengan keras. Baginya rasa PERIH
karena LAPAR adalah sahabat baik yang enggan pergi. Begitu pula dengan LECET di
kakinya, sebagai bukti perjuangan dalam meraih ILMU. Dia harus berjalan berkilo-kilometer
untuk bersekolah tanpa alas kaki alias “NYEKER”.
Tak hanya
itu, sepulang belajar, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukannya demi
sesuap “TIWUL”. Mulai dari Nguli Nyeset, Nguli Nandur, sampai melatih tim voli
anak-anak juragan tebu. Semua itu tak membuat Dahlan putus asa. Tak juga
berarti keriangan masa kanak-kanaknya hilang. Ketegasan sang Ayah dan
kelembutan hati sang Ibu, membuatnya tetap bertahan.
Persahabatan
yang murni menyemangatinya untuk terus berjuang. Dan apapun yang terjadi, Dahlan
terus berusaha mengejar DUA cita-cita besarnya yaitu “SEPATU” & “SEPEDA”.
Dialah anak miskin yang menikmati kemiskinannya & bukan untuk ditakuti
ataupun disesali.akhirnya Dahlan punya sepatu dan sepeda setelah kerja kerasnya
melatih bola voli di Pabrik gula selama 3 bulan,kemudian ditambahkan uang oleh
Bapaknya sebesar Rp.12.000 untuk membeli sepatu ,dan akhirnya Dahlanpun membeli
2 buah sepasang sepatu satu untuknya dan satu untuk dia.
Dahlan yang
bersedih karena takut kehilangan sahabat yang begitu murni,yang saling
mendukung,selalu menghadapi bersama-sama.selalu memberikan semangat
juang,sahabat yang penuh canda tawa bersama .karena sudah lulus.ketika malam
tiba Arif berkunjung ke rumah Dahlan dengan sepeda dan melaju dengan sangat
kencang untuk menerikan Surat Penting dari Aisha untuk Dahlan yang isinya bahwa
Gadis pujaan hatinya ternyata menaruh perasaan juga kepada Dahlan dan Dahlan
suruh menunggu 3 Tahun karena Aisha kuliah di Yogya.dan akhirnya Dahlanpun
berpikir untuk kuliah juga dan merantau ke Samarinda tempat kakaknya ,keesokan
harinya Dahlan meminta izin kepada bapaknya untuk merantau ke Samarinda walau
berat harus meninggalkan adiknya Zain yang begitu amat dia sayangi,akhirnya
restu dari bapakpun terkabulkan Dahlanpun
diam-diam menyiapkan surat balasan untuk Aisha….dan membalas surat untuk
Aisha
|
||
|
JUDUL BUKU
: CATATAN HATI IBU
BAHAGIA
PENULIS : LEYLA HANA
PENERBIT : JENDELA (LINI ZIKRUL HAKIM)
TERBIT : MARET 2012
TEBAL : 352 HAL
ISBN : 978-979-063-710-8
PENULIS : LEYLA HANA
PENERBIT : JENDELA (LINI ZIKRUL HAKIM)
TERBIT : MARET 2012
TEBAL : 352 HAL
ISBN : 978-979-063-710-8
Ditengah
hiruk pikuk perdebatan para wakil rakyat tentang kenaikan BBM, terdapat satu
Rancangan Undang-undang (RUU) yang konon tak kalah urgen untuk segera disahkan,
masuk dalam daftar Program Legislasi Nasional (Prolegnas) tahun ini, yaitu RUU
Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG).
Meski gaung
perdebatannya tak senyaring isu kenaikan BBM, namun RUU ini cukup membuat
gelisah beberapa elemen umat Islam negeri ini yang masih sadar benar akan
pentingnya pilar-pilar budaya dan ajaran Islam, mengingat sebagian besar isi
RUU ini memang mengadopsi aturan sekuler liberalisasi yang tertuang dalam Convention
on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW), Beijing
Platform for Action (BPFA) dan Millenium Development Goals
(MDGs). Aturan-aturan yang berusaha menegakkan kesetaraan kaum perempuan
dalam perspektif kaum feminisme barat yang sayangnya bertentangan dengan
perspektif Islam tentang perlindungan kaum perempuan, bahkan ke depan,
dikhawatirkan bakal merusak tatanan kehidupan keluarga umat Islam negeri ini. Lantas,
apa hubungannya dengan buku berjudul Catatan Hati Ibu Bahagia ini?
Mari sejenak
kita tinggalkan pembicaraan tentang RUU KKG. Sejenak kita bedah isi buku yang
ditulis oleh seorang ibu rumah tangga yang juga penulis produktif ini. Sesuai
judulnya, buku ini memang memuat curahan hati penulisnya tentang pengalamannya
menjalani peran sebagai ibu rumah tangga, mengurus keluarga, persinggungannya
dengan lingkungan sekitarnya juga fenomena yang ia tangkap tentang kehidupan
berkeluarga.
Buku ini
dibagi atas 7 (tujuh) bab, dan antara satu bab dengan lainnya seakan merupakan
rangkaian metamorfosis sang penulisnya sendiri. Pada bab awal yang berjudul
Menjadi Ibu Harus Bahagia, penulis mengungkapkan perasaan dan alasannya saat
memutuskan meninggalkan pekerjaan dan menjadi ibu rumah tangga full,
saat harus mengatasi rasa jenuh, juga meluruskan paradigma bahwa ibu rumah
tangga juga bisa berpotensi menjadi wanita hebat.
Di bab-bab
selanjutnya kita akan diajak menelusuri pengalaman dan perasaan penulis, suka
dukanya saat melewati masa kehamilan, menjadi ibu baru, merawat dan mengasuh
anak balita, interaksinya dengan asisten rumah tangga (ART), pasangan hidup,
mertua juga tetangga. Tak ketinggalan juga dibahas perspektif penulis terhadap
hal-hal jamak yang dialami ibu rumah tangga, seperti pemberian ASI eksklusif,
pemakaian diapers, problema bentuk tubuh, bagaimana mengontrol keuangan
keluarga agar tak terjerat utang, dan sebagainya. Semua ini ditulis dalam
penuturan yang lancar, ringan, humanis, juga akrab, seakan-akan kita tengah
mendengar sang penulisnya ngobrol langsung dan memosisikan dirinya sebagai
sahabat kita. Pemilihan kalimat dan tips-tips dalam buku ini sangat mudah
dicerna, sehingga cocok dibaca kaum ibu dari semua kalangan. Baik ibu rumah tangga
maupun ibu yang bekerja.
Untuk ibu
rumah tangga, buku ini seakan menjadi obat penghibur, meyakinkan bahwa setiap
tetes keringat ibu rumah tangga yang diniatkan ikhlas untuk menggapai ridhoNya,
sungguh tak ada yang sia-sia di hadapan Allah. Tips-tips yang dihadirkan juga
dapat membantu ibu rumah tangga dalam mengatasi persoalan yang biasa ditemui
dalam kehidupan sehari-hari. Baik persoalan individu maupun yang berkaitan
dengan keluarga, tetangga dan lingkungan. Untuk ibu bekerja, buku ini juga tak
lantas menjustifikasi secara sepihak pandangan penulis terhadap wanita karir,
melainkan berusaha memosisikannya secara seimbang dengan tetap mengacu pada
aturan Islam tentang wanita bekerja.
Sekilas
membaca judul, mungkin, pembaca akan mengira kalau isi buku ini hanya bicara
seputar kebahagiaan, namun esensi dari buku ini sesungguhnya jauh lebih dalam,
yaitu bagaimana penulis melewati berbagai permasalahan hidup, menyikapi dan
mengantisipasinya sesuai tuntunan Islam, dan dari situlah insya Allah
akan diraih kebahagiaan. Dalam hal ini, penulis berusaha mengajak pembaca
memahami bahwa esensi kebahagiaan seorang muslimah sesungguhnya terletak pada
rasa syukur kepada Allah dan keikhlasan menjalani peran sesuai fitrah.
Dari segi
kekurangan, dibandingkan dengan buku-buku bermuatan sejenis, penuturan dalam
buku ini memang sedikit bertele-tele, terdapat beberapa kisah yang diceritakan
secara panjang lebar, seperti pada saat penulis berganti-ganti ART, namun
kembali lagi pada selera pembaca yang heterogen, terdapat pembaca yang memang
menyenangi pola tutur demikian, atau pun yang lebih menyenangi kumpulan catatan
yang singkat dan padat, atau juga catatan yang inspiratif dan menyentuh.
Kumpulan catatan semacam ini, boleh dikatakan adalah karya yang paling
merefleksikan kejujuran penulisnya saat mengolah rasa dan pengalaman bathinnya.
Kembali pada
pertanyaan di awal resensi ini, kaitannya dengan salah satu esensi RUU KKG yang
berusaha memosisikan wanita dalam emansipasi gender menurut perspektif barat,
di mana kaum wanita didorong untuk meraih persamaan hak dan kewajiban dengan
kaum lelaki di ranah publik dan wanita tidak harus dibebani dengan urusan
domestik. Esensi ini dikhawatirkan akan berdampak pada masa depan keluarga muslim
khususnya anak-anak. Jumlah wanita yang keluar rumah untuk bekerja akan terus
meningkat, sementara pendidikan anak di rumah diserahkan ke tangan pengasuh
yang dari segi pendidikan saja masih di bawah rata-rata. Walhasil, waktu dan
perhatian pada keluarga akan semakin berkurang, generasi Islam dikhawatirkan
akan mengalami kemunduran secara perlahan-lahan khususnya kemunduran akhlak dan
pondasi pemahaman Islam dalam diri mereka, atau dengan kata lain, sangat
berpotensi menuju keadaan a lost generation.
Sebagian
dampaknya bahkan telah terjadi di masa sekarang ini. Angka perceraian meningkat
tajam dengan gugatan terbesar datang dari pihak wanita. Angka kenakalan remaja,
jumlah remaja hamil di luar nikah dan remaja yang mengonsumsi narkoba juga
terus meningkat. Bukti nyata bahwa emansipasi gender yang digaungkan pihak luar
tak lain adalah bertujuan untuk melemahkan pilar kokoh keluarga muslim dan
generasi Islam selapis demi selapis.
Memang, RUU
ini saat ini sedang ditinjau ulang, mengingat banyak isinya yang bertentangan
dengan syariat Islam. Terlepas bagaimana hasil akhirnya nanti, insya Allah
keluarga muslim negeri ini tidak akan mengalami efek negatif berarti sepanjang
para muslimahnya memahami benar esensi dari keikhlasan menjalani fitrah,
mengamalkannya secara qanaah sebagaimana yang diuraikan secara gamblang di
dalam buku ini. Keikhlasan yang akan mendekatkan pada ridho Allah, serta
kebahagiaan dunia dan akhirat. Juga dengan membaca buku ini, insya Allah hati
kaum wanita akan tergugah, bahwa mengejar materi di luar rumah sungguh tak
sebanding dengan keutamaan fungsi memelihara keluarga dan anak-anak, membentuk
keluarga samara dan menghasilkan generasi shaleh dan shalehah.
Satu hadis
yang dijadikan acuan penulis, saya kutip sebagai penutup resensi ini : Diriwayatkan
dari Anas bin Malik r.a, dari Nabi Saw, beliau bersabda, “Apabila seorang
wanita sudah menjalankan shalat lima waktu, menjaga kemaluannya, dan taat
kepada suaminya, niscaya ia akan masuk surga dari pintu mana pun yang ia
inginkan.”



Tidak ada komentar:
Posting Komentar